Maret 16, 2026
0
ISSN 2477-1686
Oleh : Elon Losman
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Dahulu, di sebuah vihara Buddha Maitreya di Medan, terdapat sebuah patung kayu Maitreya yang baru saja selesai dipahat. Permukaan patung tersebut pun masih terlihat kasar dan belum dilapisi dengan pernis. Seorang shÄ«fu (master) yang memimpin vihara tersebut kemudian meminta umatnya agar sering-sering mengusap patung tersebut. Harapannya agar gesekan dari telapak tangan umat dapat berfungsi sebagai amplas alami untuk menghaluskan permukaan patung, dan minyak alami dari tangan mereka menghasilkan efek seperti pernis yang membuat patung mengkilap. Perintah tersebut pun dilakukan dengan baik oleh umat vihara tersebut. Selang waktu berjalan, ternyata beberapa umat mengaku mengalami “keajaiban” setelah rutin mengusap patung tersebut. Ada yang sembuh dari penyakit yang diderita, ada pula yang mendapatkan rezeki dan peningkatan karier. Lambat laun, kegiatan mengusap patung Maitreya yang awalnya sekadar arahan dari shÄ«fu untuk mempercantik patung Buddha Maitreya, berkembang menjadi sebuah ritual yang diyakini dapat meningkatkan keberuntungan di kalangan umat Buddha Maitreya.
Di Indonesia, ritual mendatangkan keberuntungan seperti ini tidak hanya terjadi pada umat Buddha Maitreya Medan, tetapi juga pada masyarakat di daerah lainnya. Lihat saja Upacara Melasti yang dilakukan oleh masyarakat Bali sebelum Hari Raya Nyepi, atau ritual pertapaan di gunung yang lazim dilakukan oleh masyarakat Jawa. Keduanya juga memiliki tujuan yang serupa, menghindarkan kesialan dan mengharapkan keberuntungan. Ritual-Ritual ini biasanya diwariskan turun temurun oleh nenek moyang, dan tampaknya belum berani dilanggar oleh para penerusnya.
Secara ilmiah, ritual-ritual tersebut tentu tidak dapat dibuktikan mekanismenya. Bagaimana caranya dengan mengusap sebuah patung dapat menyembuhkan penyakit dan mendatangkan keberuntungan? Bagaimana caranya dengan “berdiam diri” di gunung dapat mengabulkan keinginan seseorang? Tetapi siapa yang peduli dengan bukti ilmiah jika sudah banyak saksi yang membuktikan keampuhan ritual-ritual tersebut. Kenyataannya, pembuktian ilmiah kalah oleh review dan testimoni dari “konsumen” sebelumnya. Dan pada akhirnya, keampuhanlah yang berbicara.
Namun sebenarnya, common sense di atas, dapat dijelaskan dengan sebuah teori psikologi umum, yaitu Self-Fulfilling Prophecy. Menurut Robert K. Merton (1948) di artikelnya The Self-Fulfilling Prophecy, Self-Fulfilling Prophecy didefinisikan sebagai proses ketika penilaian yang awalnya keliru tentang suatu situasi memicu perilaku baru, lalu perilaku itu membuat keyakinan yang keliru tadi menjadi benar-benar terjadi. Self-Fulfilling Prophecy sendiri terbagi menjadi dua, yaitu negatif dan positif. Menurut Babad dkk. (1982), Self-Fulfilling Prophecy negatif adalah hasil negatif yang didapat dari ekspektasi awal yang negatif, dan dapat disebut dengan Golem Effects. Sedangkan Self-Fulfilling Prophecy positif adalah hasil positif yang didapat dari ekspektasi awal yang positif, bisa disebut dengan Galatea Effects.
Richard Wiseman, seorang peneliti di bidang keberuntungan, mencoba menjelaskan mekanisme dari keberuntungan. Dalam bukunya The Luck Factor, dia mengatakan bahwa “Ekspektasi kita memiliki pengaruh yang kuat terhadap cara kita berpikir, merasakan, dan bertindak. Ekspektasi tersebut dapat memengaruhi kesehatan kita, bagaimana kita berperilaku terhadap orang lain, serta bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita. Ekspektasi kita tentang masa depan memiliki kekuatan untuk menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (Self-Fulfilling Prophecy)” (Wiseman, 2004). Sejalan dengan pemikiran Wiseman, dua orang peneliti dan penulis, Marsha dan Kaplan, dalam buku mereka How Luck Happens, menyederhanakan proses terjadinya keberuntungan dengan mengatakan “Keberuntungan adalah percaya bahwa kita adalah orang yang beruntung. Itu saja!” (Marsha & Kaplan, 2018).
Menggunakan “kacamata” Galatea Effects, maka dapat dinarasikan bahwa “keajaiban-keajaiban” yang terjadi pada para “pencari keberuntungan” sebelumnya, sebenarnya adalah perubahan ekspektasi yang lebih positif setelah melakukan ritual-ritual untuk mendatangkan keberuntungan tersebut. Ekspektasi positif itulah yang kemudian mempengaruhi tindakan-tindakan mereka dalam kehidupan sehari-hari, seperti lebih berani mengambil peluang, lebih terbuka dan ramah terhadap sesama, lebih bersemangat, dll. Dan pada akhirnya, perubahan tindakan tersebut yang mendatangkan kejadian-kejadian positif dalam hidup mereka.
Bagikan ke aplikasi lainnya
